Saturday, 21 February 2015

Stepping Together_Chapter 2

Stepping Together

Chapter 2


  • Coffie Shop


10:45

 “Aku tidak percaya ternyata kau bisa bolos juga,” Luhan menarik kursinya dan duduk dihadapan Seohyun. Seohyun sendiri yang sedang melamun sejak tadi tidak terlihat terkejut dan hanya melirik sewot pada Luhan.

“Kau sendiri juga bolos,” sahutnya.

“Tidak, aku hanya berniat datang siang saja,”

“Hah.. karyawan macam apa kau ini.”

“Yahhh… kenapa kau itu suka sekali marah-marah. Lihat kerutan diwajahmu, kau semakin tua,” sergah Luhan kesal dan disambut pukulan dari Seohyun yang tepat mengenai kening Luhan. Tapi Seohyun tidak mengatakan apa-apa.

Kafe itu terlihat sepi, karna memang tidak akan banyak orang yang mampir di saat jam kerja. Luhan dengan segera memesan masakan China favoritnya, sedangkan Seohyun hanya memainkan ddobokki yang sudah dipesannya. Luhan menatap perbuatannya itu dengan wajah kesal, terlebih melihat wajah cantik Seohyun yang tanpa senyum sama sekali.

“Kenapa kau tiba- tiba membolos? itu bukan kebiasaan gadis baik sepertimu. Aku mungkin bisa menebakanya, kau tidak pergi kerumah sakit karena takut dengan apa yang kau lihat?” Luhan menatap gadis dihadapannya yang kini mengangguk lesu. Luhan mendesah panjang.

“Akukan sudah bilang semuanya akan baik- baik saja.”

“Tapi sepertinya tidak akan baik-baik saja,”

“Apanya yang tidak baik. kenapa kau itu gampang sekali menyerah,”

“Kenapa kau malah memarahiku?,” sahut Seohyun dengan nada ketus. “Jangan buat aku semakin bingung. Bagaimana ini”Seohyun kembali memasang wajah bingungnya.

“Apanya yang bagaimana?”Luhan menimpalinya, tangannya sudah sibuk dengan jjangmyeong hangat dihadapannya. Tapi segera menghentikan perbuatannya ketika melihat lirikan kesal Seohyun padanya.”Baiklah ceritakan,”

“Pagi tadi Dokter Lee mengabariku bahwa hari ini beliau harus berangkat ke Paris. Beliau sedang dibutuhkan disana, dan keadaan memang benar- benar darurat. Untuk sementara waktu ini dokter lain yang akan menggantikan dan juga menggantikannya menangani Gisselle,” Seohyun mendesah menatap Luhan yang juga masih diam menatap dan mendengarkannya.”Jadi masalahnya, Dokter Lee memintaku untuk mewakilinya memberitahu keadaan Gisselle pada ayah Gisselle,”

“Lalu,”

“Luhan-si,,, aku tidak bisa memebritahukannya. Bagaimana nantinya jika ia tahu putri tunggalanya harus kehilangan organ tubuhnya. Hanya Gisselle yang dimilikinya, ibu Gisselle sudah tidak ada. Bahkan selama aku merawat Gisselle, tidak pernah ada anggota keluarga lain yang datang kecuali Kyuhyun-si,” Seohyun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tapi Luhan dengan cepat menarik dan menggengam tangan itu.

“Itu lebih baik daripada kehilangan segalanya. Jika hanya Gisselle yang dimilikinya, bukankah melihat anak itu menderita lebih menyakitkan. Tapi tunggu… kau bilang tadi Kyuhyun-si?”Luhan tiba- tiba menyadari bahwa nama itu sedikit tidak asing baginya. Dilihatnya Seohyun mengangguk.

“Ada apa? kau kenal padanya?” Luhan hanya menggeleng pelan.


“Kau tau nama disini sangat terbatas, pasti banyak orang yang bernama Kyuhyun. Hanya saja aku pernah mendengarnya, dan mengingatkanku pada seseorang. Tapi aku tidak ingat siapa,” Luhan mengangkat bahunya, dan dengan segera menghabiskan jjangmyeong di hadapannya. Luhan memesankan sarapan yang lebih layak untuk Seohyun dan memaksanya makan. Seohyun menolak, tapi dia tau itu percuma. Karena dia sendiri juga tau bagaimana sifat Luhan yang memang suka memaksa. Tapi Seohyun tau Luhan bukan tipe memaksa yang egois. Seohyun tersenyum kecil padanya dan mulai melahap sarapannya, hal itu membuat Luhan tersenyum lega melihatnya.



  • Won Geun Company


11:30

Luhan melenggang santai memasuki ruangan besar bercat putih bersih. Dia benar- benar tampan dengan kemeja putih polosnya, tidak mau repot mengenakkan jas seperti yang lainnya. Bahkan Park Jin Young bosnya tidak menegur pegawainya itu. Luhan berdiri tepat disamping The Cube President itu, dan menyalami Lincoln Jo setelah pujian-pujian dilontarkan oleh pemilik Won Geun itu padanya. Bosnya terlihat bangga ketika memperkenalkan Luhan pada semua rekan- rekannya. Tapi Luhan mengabaikan bosnya yang sudah mulai melebih-lebihkan kemampuan dan kecerdasannya. Matanya menyapu ruangan itu, semua kursi sudah terisi dengan para tamu undangan. Luhan sendiri menghampri kusri yang sudah disiapkan untuknya, dan tepat duduk diantara bosnya dan pemilik Won Geun. Luhan hanya mendesah dan meringis sebal.

Luhan terduduk lesu dan meraih ponselnya berharap melihat pesan dari Seohyun, tapi yang ada hanya nama Jiyeon lagi, dan lagi. Dengan kesal Luhan mematikan ponselnya, lalu menatap kedepan. Pandangan Luhan bertemu dengan laki-laki itu. Mata itu memandangnya! Orang itu duduk dengan santai sembari memainkan ponselnya. Tapi tidak dengan tatapannya, yang terus menatap Luhan tanpa berkedip. Luhan membalas tatapannya, bertanya dalam  hatinya, kenapa laki-laki itu terlihat tidak asing. Dan kenapa dia terus menatapnya.

Lincoln Jo membuka pertemuan itu dengan gaya ramainya seperti biasa. Sebenarnya Luhan lebih menyukai pemilik Won Geun itu daripada bosnya sendiri. Tapi Luhan juga tau jika Lincoln Jo adalah orang yang sangat ambisius. Dan Luhan tidak bisa bekerjasama dengan orang seperti itu, walaupun sudah bebrapa kali pemilik Won Geun itu mengajaknya bekerja sama tanpa sepengetahuan Jin Young. Tapi dengan tegas Luhan menolaknya.

Dan seperti dugaannya, Lincoln Jo mulai melebih-lebihkan tentang kemampuan Luhan. Dan terpaksa Luhan harus memberi salam 90derajat sebagai ucapan terima kasihnya ketika semua orang bertepuk tangan untuknya. Dilihatnya Jin Young tersenyum bangga dan menepuk-nepuk bahunya. Dan satu-satunya orang yang tidak bertepuk tangan adalah laki-laki itu. Dia hanya melemparkan pandangan dinginnya.

“Oke baiklah. Sudah cukup tepuk tangan untuk anak ajaib ini. Jin Young, jika dia tidak sebegitu setianya padamu aku sudah merebutnya sejak dulu,” Ujar Lincoln Jo, dan disambut tawa keras ayah Jiyeon.

“Dengar Jo, aku tidak akan pernah melepaskannya,”

“Aku meyakini itu, sangat disayangkan aku dulu terlambat menemukannya. Ahhh…” Hal itu disambut tawa para tamunya. Luhan hanya tersenyum getir dan mulai memakan makanannya. Tapi tiba- tiba saja ucapan Lincoln Jo membuat Luhan berhenti melahap steaknya.

“Ohh Kyuhyun-si, kau tidak menikmati makananmu. Kupikir kau akan datang dengan rekanmu, tapi ternyata kau hanya sendirian,” Dengan segera Luhan mengikuti arah pandangan Lincoln Jo. Dan matanya menemukan nama itu pada laki-laki yang sejak tadi menatap dingin padanya. Dan tiba- tiba saja bosnya mengubah posisi duduknya, terlihat mulai waspada. Laki-laki bernama Kyuhyun itu masih diam menatap Luhan dan bosnya, lalu menatap Lincoln Jo dan melemparkan senyumnya yang ternyata memang menawan. Pantas saja Luhan seakan tidak asing dengan nama itu ketika Seohyun menyebut nama itu tadi pagi. Luhan baru mengingatnya bahwa Kyuhyun –si dari Shinwa Company adalah rival bosnya.

“Sunbaenim tenang saja, aku sangat menyukai jamuanmu ini. Hanya saja seleraku mungkin sedang turun. “ Lincoln Jo tersenyum tulus mendengarnya.

“Aku senang mendengarnya. Bagaimana menurutmu pertemuan ini, sudah lama bukan kita tidak berkumpul sperti ini,” Lincoln Jo mengajukan pertanyaan itu dan memandang semua orang yang hadir.

“Mengaggumkan. Aku banyak bertemu orang baru, dan sepertinya yang lain juga berpikir sama. Bukankah begitu Luhan-si,” Luhan sedikit terkejut ketika namanya mulai disebut lagi. Kyuhyun-si tersenyum padanya, Luhan tidak tahu itu senyum tulus atau jebakan untuknya. Tapi Luhan hanya mengangguk.

“Ya tentu saja, senang bertemu dengan anda”

“Anda memang mengaggumkan Jin Young sunbaenim. Lama sekali kita tidak berjumpa bukan. Aku benar- benar terkejut atas kelihaianmu kali ini,” Kyuhyun-si seakan melemparkan ribuan gelas yang membuat presiden The Cube itu berusaha sekali menguasai emosinya.Tapi Park Jin Young hanya tersenyum.

“Jangan melebih-lebihkan Kyuhyun-si. Aku sendiri sangat mengaggumimu, hanya saja kali ini rupanya anda kurang cepat. Dan sebaiknya anda mulai mencari orang-orang cerdas,” Luhan melihat bosnya itu tersenyum puas, dan merasa yakin bahwa keadaan akan semakin memanas. Tapi laki-laki itu benar- benar pandai menguasai emosinya, ia hanya tersenyum tenang. Dan Luhan bersyukur ketika Lincoln Jo yang mulai menyadari keadaan buruk itu mulai mengganti topik pembicaraannya.

Pukul 13.00 pertemuan itu akhirnya selesai. Dengan segera Luhan mengikuti bosnya meninggalkan kursi dan ruangan itu. Luhan menghirup udara dalam-dalam diluar setelah keadaan panas yang terjadi didalam. Bosnya masih mengobrol tentang bisnisnya dengan pemilik Won Geun itu. Luhan duduk dan menyandarkan punggungnya pada kursi ruang tunggu. memejamkan matanya beberapa saat, tidak begitu menyadari ketika langkah itu mendekat . Luhan menoleh, dan melihat Kyuhyun-si duduk disampingnya, menatap jauh kedepan. Laki-laki itu terlihat tampan , tiga senti lebih tinggi dari Luhan, dan Luhan mengakui jika suara dan senyumnya sangat mempesona. Tapi kenapa tatapannya begitu dingin.

“Jin Young benar-benar beruntung,” Ujarnya membuka percakapan.

“Apa maksud anda? mengapa anda sangat tertarik dengan bosku? siapa anda sebenarnya?” Luhan bertanya dengan curiga yang disambut tawa mengejek dari lelaki itu.

“Aku yakin setelah ini bosmu akan menjelaskannya. Mungkin mulai sekarang aku harus semakin waspada,” Kyuhyun-si menoleh, menatap Luhan dengan mata dinginnya.

“Kenapa anda harus berhati-hati?”

“Tidak perlu kujelaskan. Hanya sebaiknya kau bersiap saja, mungkin aku akan mengawasimu sedikit,” Laki-laki itu bangkit merapikan jasnya dan bersiap meninggalkan tempat itu tapi Luhan menghadangnya dengan segera.

“Apa maksud anda dengan memata-mataiku?”

“Jika itu bisa merebut tempatku kembali, kenapa tidak?bye nak, tenang saja kita akan berjumpa lagi,” Luhan masih berdiri mematung, laki-laki itu tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Sedikit panas mendengar ucapan tajamnya, tapi Luhan hanya berdiri, tidak mengatakan apa-apa.

Dalam perjalanan pulang Luhan tidak banyak bicara. Bahkan menjawab kata-kata bosnya dengan malas-malasan. Mungkin Luhan adalah salah satu pegawai yang bisa disebut kurang ajar. Tapi karena kecerdasannya itulah dia mendapat hormat lebih. Bahkan pemilik The Cube company itu harus mampu menguasai emosinya demi mempertahankan Luhan berada di pihaknya. Laki-laki tadi benar- benar menguras pikiran Luhan. Menyimpulkan kata-katanya bahwa dia benar- benar memebenci orang yang duduk diampingnya itu. Dan Luhan pun merasa mulai waspada, karena Luhan melihat bahwa Kyuhyun-si bukan orang yang pantas diremehkan. Dan bahkan mungkin dia jauh lebih lihai dari perkiraannya. Hanya saja Luhan baru pertama kali ini bertemu dengannya, tapi baginya wajah pria itu tidaklah asing. Luhan bahkan memikirkan kemungkinan bahwa laki-laki itu adalah ayah Gisselle. Luhan lalu menoleh pada bosnya yang terlihat bermain dengan agenda jadwal ditangannya.

“Ajhusi, bisa anda ceritakan tentang pemilik Shinwa Company?”



  • Luhan's Apartement



Luhan melemparkan tasnya begitu saja lalu menjatuhkan dirinya diatas kasur empuknya. Ia lalu mendesah panjang dan beberapa menit mencoba memejamkan matanya. Niatnya ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya, tapi kata-kata bosnya seakan berputar terus dikepalanya tanpa henti. Luhan terduduk, entah ini kecemasan atau apa yang dirasakannya. Tapi mengingat laki-laki itu membuatnya sedikit gelisah.

"Kenapa kau menanyakannya?" ujar Park Jin Young, nadanya terdengar gusar ketika Luhan menanyakan pemilik Shinwa Company itu. Tapi Luhan hanya mengangkat bahunya.

"Aku hanya perlu tahu siapa lawanku sebenarnya," Luhan menatap balik bosnya yang kini mendesah panjang. Seakan membahas pemilik Shinwa Company itu adalah beban berat untuknya. Tapi perlahan bosnya itu mulai menceritakan.

"Ayahnya, sejak dulu adalah rivalku ketika aku memulai bisnisku ini. Walaupun aku selalu berada diatasnya, tapi tetap saja dia selalu membuatku cemas. Aku selalu ingin membuat bisnisku ini maju, beberapa kali dia hampir mengungguliku tapi nyatanya dia tidak berhasil. Bahkan ketika Yeung Hwan meninggal aku menjadi sedikt bergembira, tapi juga bersedih. Aku tahu aku membencinya, tapi dia selalu membuatku kagum. Sampai anaknya itu yang mengendalikannya, dia benar- benar luar biasa. Aku tidak tahu darimana dia mendapatkan kecerdasan itu. Dengan telak dia langsung bisa mengalahkanku dalam lima tahun ini. Dia sangat lihai dan juga licik, kata-katanya selalu pedas tapi aku mengakui jika anak itu sangat jenius. Berkali-kali aku mencoba merekrut orang, tapi tetap saja tidak ada yang mampu mengalahkannya. Perusahaannya menjadi yang terbaik di Seoul, bahkan perusahaan sebesar Won Geun sudah beberapa kali bekerja sama dengannya." Lalu Luhan mendengar bosnya tiba-tiba tertawa." Lalu sekarang akhirnya aku menemukanmu, dan tak kusangka aku bisa melihat wajahnya ketika aku bisa mengalahkannya, terlebih Won Geun jatuh ketanganku,"  Jin Young tertawa keras, dan Luhan hanya memandang bosnya itu dengan bosan. Tapi Luhan masih ingin mengajukan pertanyaan, rasa penasaran masih menyelimuti pikirannya.

"Kelihatannya dia masih muda, dan juga tampan. Mungkinkah dia sudah menikah?"

"Kenapa kau begitu ingin tahu tentangnya?"

"Aku hanya butuh informasi, mungkin itu akan lebih mudah mengalahkannya ketika aku tahu riwayatnya," Dan Luhan dengan segera melihat bosnya itu mengangguk setuju.

"Aku tidak begitu tahu tentang pribadinya. Yeung Hwan sudah menikah dua kali, dan dua kali juga bercerai...."

"Tunggu dulu, siapa Yeung Hwan?" Tiba-tiba Luhan merasa sedikit bingung dengan ceritanya. Dan bosnya hanya memutar bola matanya, dan Luhan baru menyadari bahwa orang tua ternyata juga bisa memutar bola matanya.

"Sebenaranya kau ini menyimak ceritaku tidak? akukan sudah bilang Yeung Hwan adalah ayah Kyuhyun. Yang aku tahu Kyuhyun menikahi gadis inggris saat usianya masih 22 tahun bahkan aku yakin sekarang usianya masih dibawah tiga puluh tahun. Dan Yeung Hwan tidak setuju, tapi anak itu tetap melakukannya, dan membuat Yeung Hwan jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Jadi bercerainya karena Hwan meninggal, dan aku tidak pernah tau tentang istri itu. Kudengar istrinya lalu kembali ke negri asalnya" 

"Maksud anda istrinya bukan orang dari Korea? lalu kemana dia pergi, maksudku istrinya?" Tapi ternyata bosnya sudah tidak mau bercerita apa-apa lagi.

"Sudah cukup pertanyaanmu. Aku tidak tahu menahu tentang keluarga itu. Kau lupa bahwa aku tidak suka pada Kyuhyun-si. Sangat muda dan berbahaya," Dan Luhanpun akhirnya berhenti bertanya.

Didalam kamarnya Luhan masih termenung, mencerna semua kalimat yang diucapkan bosnya. Mengapa Luhan begitu ingin tau tentang kehidupan pemilik Shinwa Company itu. Luhan merasa bahwa apa yang dilakukan pria itu tidaklah asing, dan Luhan yakin pernah bertemu dengannya sebelum ini. Tiba- tiba saja lamunannya buyar saat ponselnya terasa bergetar disaku kemejanya. Luhan meraihnya dan melihat nama Seohyun memanggilnya. Dengan cepat Luhan menekan tombol 'terima'.

"Seohyun,"

"Luhan-si," Luhan mendengar suara panik Seohyun di ujung sana dan baru menyadari ketika Luhan mendengar Seohyun menangis." Luhan-si?"

"Seohyun ada apa? kenapa dengan suaramu? apa yang terjadi?" Luhan terlihat panik dan khawatir ketika mendengar Seohyun menangis.

"Aku sudah memberitahunya,"

"Memberitahu apa?" Tapi Seohyun hanya diam dan menangis membuat Luhan tidak sabar."Seohyun katakan ada apa?"

"Aku sudah memberitahu Kyuhyun-si. Dan aku hampir melihatnya bunuh diri ketika aku memberitahunya," Lalu Luhan mendengar Seohyun menangis sejadi-jadinya. 

"Seohyun tunggu disana, jangan pergi kemanapuan!Aku akan segera kesana," Luhan mematikan ponselnya, mengambil kunci mobilnya lalu menghambur keluar tanpa mengunci pintu apartementnya.



                                              *****
Luhan memacu mobilnya dengan kencang dibawah hujan yang tiba- tiba saja mengguyur kawasan itu. Jalanan terlihat licin membuat Luhan harus berhati-hati. Sonju Hospital's terletak tidak jauh dari Universitas Hongdae. Saat ini dalam otaknya hanya ada Seohyun, kecemasan melandanya. Luhan benar- benar merasa takut jika sesuatu terjadi pada gadis itu. Luhan memasuki halaman rumah sakit dan langsung memarkir mobilnya, Luhan lalu berlari cepat tidak peduli dengan hujan deras yang sudah sudah mulai membasahinya. Luhan segera menyusuri koridor, tapi Luhan tidak tahu Seohyun dimana. Luhan menghubungi ponsel Seohyun, tapi hanya mendengar nada putus membuat Luhan semakin khawatir. Luhan lalu mengahampiri meja resepsionis.

"Bisa aku bertemu suster Seohyun? Seo Joo Hyun?"pegawai itu memberitahu ruangan di lantai tiga dengan pasien bernama Gisselle Cho. Luhan segera menuju kesana, Luhan berharap bahwa semuanya baik-baik saja  Dan seharusnya memang tidak terjadi apapun.Luhan sudah menemukan kamar Gisselle, tapi Seohyun tidak ada disana. Luhan hanya melihat gadis kecil itu tertidur dipembaringannya, wajahnya sangat cantik tapi juga pucat tidak terlihat seperti wajah orang Korea. Luhan dengan segera meninggalkan ruangan itu dan mulai mencari Seohyun di seluruh ruangan, bahkan beberapa kali dia menanyakan pada suster lain tapi ternyata tidak ada yang melihatnya. 

Luhan terlihat khawatir tapi juga sebal, ia kembali kelantai satu dan berniat membeli kopi panas. Tapi niat itu diurungkannya ketika Luhan melihat Seohyun duduk disana meminum segelas kopi panas. Dan orang yang duduk disampingnyalah yang membuat Luhan terkejut. Dugaannya memang benar jika Kyuhyun dari Shinwa Company adalah ayah Gisselle. Sangat cocok ketika melihat wajah Gisselle yang lebih mirip orang eropa, karena Kyuhyun memang menikahi wanita inggris. Luhan melihat Seohyun menggenggam tangan pria itu,  terlihat juga Seohyun berusaha menghiburnya. Ada rasa yang tidak disukainya ketika Seohyun melakukan itu. Tapi pria itu terlihat tidak sehat, bajunya basah kuyup, wajahnya pucat dan pandanggannya sangat kosong. Luhan yakin bahwa Kyuhyun-si pasti sangat terpukul dengan keadaan putrinya. Untuk saat ini Luhan tau diamana posisinya, meskipun dia merasa sedikit sakit melihat Seohyun duduk dengan pria itu, tapi pria itu lebih membutuhkannya saat ini. Luhan membalikkan tubuhnya, berniat pergi dari tempat itu walaupun tidak berniat untuk pulang. Tapi dia mendengar seseorang berlari dibelakangnya dan memanggil namanya dengan jelas.

"Luhan-si," Tentu saja Luhan mengenal suara itu. Luhan membalikkan badannya dan memandang senyum Seohyun yang sudah kembali seperti semula. Wajahnya memang terlihat pucat dan lelah tapi ada sebuah ketenangan di wajahnya." Kau sudah datang, maaf aku tidak menunggumu diluar. Aku tidak bisa meninggalkan Kyuhyun-si saat ini," 

Luhan tersenyum," Tidak apa-apa, kau sudah kenal akukan jadi jangan merasa bersalah," ujar Luhan sembari mengacak-acak rambut Seohyun dibalik topi perawatnya. Seohyun hanya memasang wajah cemberutnya. Luhan sangat lega melihat Seohyun baik-baik saja dan kembali tersenyum seperti biasanya. 

"Ohh aku perkenalkan kau dengan Kyuhyun-si..."

"Kami sudah kenal," terdengar suara lembut memotong ucapan Seohyun. Seohyun menoleh dan melihat Kyuhyun sudah berdiri dibelakangnya mengenakan mantel berwarna cokelat. Luhan sangat yakin bahwa itu adalah mantel Seohyun. Senyumnya terlihat mengembang, benar-benar lihai menguasai keadaan. Rambut dan kemejanya terlihat basah, tapi wajah yang dilihat Luhan tadi sudah menghilang sama sekali dan Luhan kembali melihat tatapan dinginnya. Tapi senyumnya memang terlihat mempesona.

"Kyuhyun-si, anda sudah terlihat baik, syukurlah,"

"Aku baik-baik saja suster Hyun," Luhan bisa merasakan tatapan Kyuhyun-si pada Seohyun yang mungkin hampir sama tatapan dirinya pada gadis itu. 

"Sebaiknya anda istirahat saja, biar saya yang menjaga Gisselle hari ini,"

"Tidak perlu, aku baik- baik saja. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain," Luhan merasakan pandangan Kyuhyun terararah padanya." Terutama untuk Gisselle,"lanjutnya.

"Kelihatannya kalian berdua sudah mengenal?" Seohyun memandang keduanya. Tapi tidak melihat ketegangan yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua.

"Ya, kami adalah rekan," Luhan segera menimpali. "Bukankah begitu Kyuhyun-si," Laki-laki itu memamerkan senyumnya lalu mengiyakan ucapan Luhan.

"Dan sepertinya kalian cukup dekat?" Kyuhyun yang mengajukan pertanyaan itu pada Seohyun. Tapi sebelum Seohyun menjawabnya Luhan sudah mendahuluinya.

"Tentu saja. Apartement kami bersebelahan, kami sangat dekat dan aku juga sudah yakin jika anda adalah ayah Gisselle saat Seohyun menceritakan tentang Gisselle," Dengan jelas Luhan melihat bahwa laki-laki itu tidak suka dengan ucapannya. Tapi Luhan tidak peduli, dia hanya ingin menegaskan dan mengklaim Seohyun agar lelaki itu tidak mendekatinya. Karena Luhan sudah mempunyai firasat bahwa Kyuhyun menyukai Seohyun. Kyuhyun melihat kearah Seohyun yang tertunduk.

"Anda menceritakkan itu padanya Suster Hyun?"

"Aku minta maaf Kyuhyun-si, sungguh. Saat itu aku membutuhkan seseorang untuk kuajak bicara,"

"Lalu kenapa kau tidak langsung bercerita padaku? kenapa kau malah menceritakan ini dengan orang lain?" Kyuhyun menatap Seohyun, dan hal itu membuat Seohyun seakan ingin menjambak rambut Luhan yang sudah berbicara sembarangan.

"Hanya saja aku tidak ingin melihat anda sedih. Aku takut sekali, aku hampir saja tidak bisa menceritakan pada anda jika ini bukan tugasku," Seohyun memandang laki-laki itu yang kini menggenggam tangannya. Seohyun terlihat sedikit terkejut tapi dia membiarkannya karena Seohyun tau pria itu butuh dukungan. Tapi Luhan yang melihat adegan itu didepan matanya terlihat panas lalu menyentakan tangan Seohyun dan menariknya.

"Kita harus bicara!"

"Luhan, jangan tarik tanganku! ini sakit, sejak kapan kau menjadi kasar," Luhan menyadari kekeliruannya dan melepaskan tangan Seohyun ketika dia menariknya. Luhan merasakan luka ketika untuk pertama kalinya Seohyun menatap tajam padanya. 

"Kenapa kau tidak terlihat suka ketika aku memegang tangannya, " Kyuhyun menimpali tapi Luhan mengabaikannya.

"Kurasa itu bukan urusan anda," Lalu mengalihkan tatapannya pada Seohyun." Tapi kita harus bicara,"

"Ya, memang kita harus bicara," Seohyun menyahut dengan nada ketus lalu pergi, Luhan mengikuti langkahnya entah kemanapun Seohyun akan membawanya. Meninggalkan Kyuhyun yang termangu sendiri ditempatnya.

Seohyun menghentikan langkahnya di ujung koridor. Hanya ada satu ruangan dan itu adalah lemari sapu. Koridor itu sepi. Seohyun masih menatap tajam pada Luhan, dan Luhan bahkan tidak berani memandangnya. Dia hanya memainkan gelang talinya. Suasana hening, tidak ada yang bicara bahkan Seohyunpun tidak. Luhan memandangnya sebentar dan melihat gadis itu masih menatap tajam padanya. Luhan mendesah.

"Baiklah, aku minta maaf. hari ini aku memang keterlaluan,"

"Bagus jika kau menyadarinya,"

"Tapi kenapa kau sangat marah padaku kelihatannya. Aku hanya menarik tanganmu,"

"Bukan itu,"

"Lalu apa?"

Seohyun mendekati Luhan dan memukul kepalanya.

"Kau sudah gila?"

"Kau yang gila. Kenapa kau mengatakan itu pada Kyuhyun-si? harusnya kau minta maaf padanya. Kau tau bagaimana keadaannya saat ini, jangan membuat keadaannya menjadi rumit,"

"Yahh aku tidak berbuat apa-apa, aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan. Dia saja yang terlalu sensitif," Luhan berusaha membela diri tapi Seohyun kembali memukul kepalanya yang membuat Luhan menjerit keras.

"Kau punya masalah apa dengannya? sehingga kau menjawab sesinis tadi. Bahkan menyinggung perasaannya, kau tahu Luhan-si keadaanmu saat ini jauh lebih baik dan dia sedang mengalami masalah sulit. Seharusnya kau merasa prihatin," Luhan mendengarkan pepatah Seohyun dan hanya mengangguk tidak jelas. Entah mengerti atau tidak Luhan hanya ingin Seohyun berhenti memarahinya.

"Seohyun-ah,,, akukan sudah minta maaf. Mungkin aku hanya sedikit emosi ketika aku melihatnya memegang tanganmu,"

"Memangnya kenapa jika dia memegang tanganku?"

Luhan terlihat bingung ketika Seohyun mengajukan pertanyaan itu." Tentu saja tidak apa-apa, hanya saja bagaimana jika ibu Gisselle melihat? kau tidak berpikir sampai kearah situ?"tapi Seohyun hanya mengerang.

"Tentu saja aku berpikir. Kau saja yang tidak berpikir, aku sudah pernah bilang jika Ibu Gisselle sudah meninggal," ujar Seohyun lalu meninggalkan Luhan yang masih berdiri ditempatnya. Luhan menyimpan kata-kata itu, wajahnya terlihat mengeras dan dalam hatinya berkata bahwa ini tidak akan mudah.

to be continue...

No comments:

Post a Comment