Sunday, 31 August 2014

Stepping Together_Chapter 1



Stepping Together

Staring :
Luhan_Exo
Kyuhyun_Super Junior
Seohyun_SNSD
Jiyeon_T'ARA





  • Luhan’s Apartement

Rabu 22:17

Luhan membuka jendela apartemennya, memandang lalu lintas kota Seoul dibawah langit yang semakin menghitam di ujungnya. Masih mencoba merasakan angin yang menghembus disela- sela padatnya kota itu. Dia masih mengenakan kemeja dan sepatu kantornya, terlihat lucu karena dia masih sangat muda tetapi jabatan manager bisa diraihnya dengan mudah. Jika mereka tidak tahu, mungkin akan mengira Luhan itu masih berusia belasan tahun dan masih duduk di bangku kuliah.

Dia melemparkan jas dan sepatunya begitu saja. Ruangan itu gelap, bukannya tidak ada lampu, hanya saja Luhan tidak suka terang dan dia lebih nyaman dengan suasana gelap. Baru enam bulan lebih dia menempati apartement itu, dan hanya satu yang membuatnya tertarik dan kenapa dia betah berada di apartement itu.  Untuk saat ini mungkin hanya Luhan yang tau alasannya.

Luhan merebahkan dirinya di sofa lalu meraih ponselnya dan memeriksa beberapa email yang masuk. Dia hanya tertawa hambar ketika lagi- lagi dia melihat nama Jiyeon memenuhi inboxnya. Pertanyaannya selalu sama, dan Luhan merasa bosan dengan pertanyaan itu. Dia mengabaikannya dan melemparkan ponselnya begitu saja.

Ketika pikirannya berkelana entah kemana, dengan sedikit tidak sadar dia mendengar seseorang mengetuk pintu apartementnya. Entah kenapa tiba- tiba semangatnya bangkit. Seseorang yang sangat di harapkannya mungkin sekarang sedang berdiri didepan pintunya. Dengan setengah berlari Luhan menyalakan lampu dan membuka pintunya dengan cepat. Tapi yang datang ternyata Jiyeon, dan dia sama sekali bukan orang yang diharapkannya.

Jiyeon memiliki wajah sombong yang sempurna, tipikal highclass yang tinggi. Dia memandang dengan antusias pada Luhan dan tersenyum semanis mungkin di bawah lipstick merahnya.

“Luhan Oppa!”dengan spontan Jiyeon langsung memeluk Luhan yang kini sudah memasang wajah tidak sukanya.

“Lepasakan Jiyeon! Mau apa malam- malam begini datang? Kau tahu ini sudah jam sepuluh lewat!” Luhan melepaskan tangan Jiyeon dengan kasar, lalu memandangnya dengan marah. Tapi Jiyeon hanya memasang tampang cemberutnya karena tidak suka melihat Luhan kasar padanya.

“Jangan kasar Oppa, aku datang karena aku rindu padamu!”

“Rindu? sudah 3 kali kau datang dan menggangguku bekerja, sekarang ke 4 kalinya kau datang mengganggu waktu istirahatku. Kenapa kau keras kepala sekali, aku minta kau pulang sekarang juga!” Luhan benar- benar marah kali itu, tidak peduli dengan mata Jiyeon yang sudah mulai basah. Tapi Jiyeon malah balik berteriak padanya dan menerobos masuk ke apartemen Luhan.

“Aku tidak mau pulang, aku mau menginap disini!”

“Menginap? kau tidak bisa menginap disini,”

“Kenapa tidak bisa?”

“Tentu saja tidak bisa, kau ini perempuan,”

“Memangnya kenapa kalau aku perempuan? aku sudah bilang pada Ayah bahwa aku bisa menginap disini kapanpun aku mau” Jiyeon memasang wajah sombongnya, yang membuat Luhan semakin kehilangan kesabarannya.

“Aku yang membeli apartement ini, bukan Ayahmu Jiyeon. Jadi aku berhak mengusir tamu yang tidak sopan disini,”

“Tidak sopan? Tapi kau bekerja pada Ayahku dan dia yang menggajimu,” Jiyeon bener- benar berteriak, tapi dia langsung terdiam ketika menyadari kata- kata terakhirnya membuat Luhan tidak bisa menahan amarahnya.

“Jadi kau pikir karena Ayahmu yang menggajiku, aku harus menjadi pengasuhmu? Lalu kenapa kau tidak mendatangi satu persatu karyawan Ayahmu dan meminta mereka menampungmu tidur dirumahnya,” Jiyeon duduk terdiam dan menghapus air matanya, tapi Luhan tidak peduli. Baginya sikap Jiyeon sudah lewat dari batas yang seharusnya.

“Maaf oppa!”

“Dengar Jiyeon, aku bekerja menggunakan otakku sendiri. Aku bisa mencari pekerjaan lain jika kau tidak suka aku digaji ayahmu. Dan kita akan lihat siapa yang akan menyesal,”

“Maafkan aku oppa, aku tidak bermaksud mengatakan itu!” Jiyeon meraih tangan Luhan, tapi Luhan melepaskannya dengan kasar.

“Lebih baik kau pulang sekarang,!”

“Tapi oppa,,,” Jiyeon tidak melanjutkan kata- katanya ketika melihat Luhan melotot padanya. Jiyeon meraih tasnya, masih memandang Luhan dengan mata basahnya.”Oppa..”

“Apa?”

“Bisakah kau antarkan aku, ini sudah malam aku takut pulang sendiri,” Luhan memutar bola matanya, dan benar- benar ingin menjambak habis rambutnya sendiri.

“Ya Tuhan kenapa aku harus kenal dengan orang ini,” dengan kesal Luhan meraih kunci mobilnya.






  • Sonju Hospital’s


Kamis 19:15

“Suka dengan bonekanya?”

Gadis kecil itu mengangguk senang dan memeluk boneka barunya dengan sayang. Perawat itu membelai lembut rambutnya dan menarik rapat selimutnya.

“Suster Hyun apa kau akan pulang?”

“Hemm... aku tidak tahu, kenapa kau bertanya?” Perawat itu tersenyum hangat lalu duduk disamping tempat tidur dan membelai telapak tangan gadis kecil itu.

“Kalau suster pulang siapa yang akan menemaniku?”

“Tentu saja Ayahmu Gisselle, dia kan sudah membawakan ini untukmu,” Perawat itu mengambil boneka Woody dan memainkannya dengan riang membuat gadis kecil itu tertawa senang.

“Aku ingin kakek ada disini, kata Ayah kakek akan datang tapi tidak pernah datang,” tiba- tiba gadis itu memasang wajah sedihnya.

“Mungkin kakek sedang sibuk jadi tidak bisa datang,”

“Tapi aku ingin kakek datang,” Gisselle mulai berteriak, perawat itu dengan sabar membujuk dan menghiburnya. Tapi Gisselle masih berteriak memanggil kakeknya dan sudah hampir menangis.

“Gisselle!”

Sesosok pria tampan dengan senyum cerah memasuki ruangan. Wajahnya masih muda, stelan jasnya tidak memberikan kesan bahwa dia sudah menjadi seorang Ayah.

“Jangan membuat suster Hyun repot Gisselle,”

“Ohh Kyuhyun –ssi, Gisselle tidak merepotkan. Dia hanya sedikit merajuk, dan aku sudah terbiasa dengannya,” Suster itu tersenyum lembut, dan laki- laki itu menatapnya dengan pandangan berterima kasih padanya.

“Terima kasih sudah menjaganya, aku tidak tahu kenapa Gisselle hanya cocok dengan anda. Dan bahkan tidak mau makan kalau bukan anda yang menyuapinya,” Suster Hyun tersenyum.

“Itu tugas saya, anda tidak perlu khawatir. Hari ini Gisselle makan cukup banyak dan sudah mau minum obatnya secara teratur.Benarkan Gisselle, coba beritahu Ayah!” Gisselle tersenyum senang dan mulai menceritakan apa yang dilakukannya hari ini dengan penuh semangat pada Ayahnya. Ayah dan Suster Hyun mendengarkan dengan sabar, sesekali Susternya memberikan tambahan pada ceritanya membuat Ayahnya terus menoleh cepat pada suster itu.

“Seohyun-ssi,” Seorang perawat lainnya berdiri di ambang pintu memanggil Suster Hyun.

“Ya,”

“Dokter Lee memanggilmu, beliau ingin bicara sebentar denganmu sebelum kau pulang, kata beliau ini tentang Gisselle”bisiknya setelah Seohyun mendekat.

“Ohh baiklah, aku akan segera datang, terima kasih”

Perawat itu pergi, Seohyun kembali dan segera memeriksa selang infus dan merapikan barang- barangnya.

“Gisselle sayang, karena Ayah sekarang sudah ada disini, suster akan pulang sekarang,”

“Kenapa cepat sekali? tidak biasanya anda pulang lebih awal,” Kyuhyun-ssi memandang ke arlojinya lalu kembali memandang Seohyun.

“Iya kenapa suster pulang cepat sekali,”Gisselle menambahkan,  Seohyun membelai rambut gadis itu dengan sayang.

“Ada seseorang yang harus suster temui sayang,”

“Siapa? apakah dia pacar suster,?” Seru Gisselle dengan senang membuat Seohyun tertawa.

“Tentu saja bukan. Selamat malam Gisselle!” Seohyun mengecupnya.     ” Kyuhyun- ssi, maaf saya harus pulang lebih awal, saya harap anda tidak keberatan,”

“Tentu saja tidak, biar saya yang menjaga Gisselle, terima kasih” entah kenapa tiba- tiba ada nada canggung dalam suaranya. Seohyun mengangguk padanya lalu meraih tasnya, belum sempat Seohyun berlalu pria itu tiba- tiba menggenggam tangannya. Membuat Seohyun terkejut dan heran. Seohyun melihat tatapan aneh pada matanya, dan betapa canggungnya sikapnya itu. Dia melepaskan tangan Seohyun dengan segera.

“Ya?” Seohyun masih menunggu, tapi Kyuhyun-si hanya tertawa.

“Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja terima kasih sekali lagi, dan hmm.. hati- hati,” Pria itu melambaikan tangan padanya, Seohyun tersenyum dan mengangguk sekali lagi lalu berlalu meninggalkan mereka.

15 menit sudah berlalu ketika Seohyun mendengarkan penjelasan Dokter Lee tentang kondisi Gisselle saat ini. Seohyun masih menatap nanar foto rongten kaki Gisselle di hadapannya.

“Kankernya sudah membesar, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali mengangkatnya. Jika tidak maka kankernya akan semakin menyebar keseluruh organ tubuhnya,”

“Mengangkatnya, berarti mengamputasinya dok?” Dokter Lee mengangguk.

“Tidak adakah cara lain?”

“Sebagai perawat anda tentunya mengerti Suster Hyun,” Seohyun tidak bisa menahan air matanya lagi. Seohyun sudah pernah merawat anak penderita kanker sebelumnya, dan dia tahu betapa dia bisa merasakan penderitaannya. Dan akhirnyapun maut yang menjemputnya karena anak itu sudah tidak mampu bertahan lagi. Dan Seohyun tidak ingin hal itu terjadi kedua kalinya, terutama pada Gisselle.

“Apakah Kyuhyun-ssi sudah tahu,?”

“Untuk saat ini belum, akan segera kuberitahu padanya karena hal ini harus dilakukan dengan segera. Lebih baik gadis itu kehilangan satu kakinya dari pada harus merasakan sakit setiap harinya, atau bahkan dia bisa saja tidak bisa bertahan,”

“Tapi pasti dia akan terpukul jiwanya dok,”

“Untuk itulah saya memberi tahu anda terlebih dahulu. Dia hanya hidup dengan Ayahnya, Ibunya sudah tidak ada. Dan andalah satu- satunya orang yang saya lihat dekat dengannya selain Ayahnya, dan saya harap anda bisa membantu memberikan dukungan batin pada anak itu,”

Seohyun masih menyempatkan diri melihat sebentar ke kamar Gisselle. Dia melihat Kyuhyun-ssi tertidur pulas di sofa dan Gisselle masih memeluk boneka Woody-nya. Dia tidak bisa membayangkan seberapa menderitanya gadis itu sekarang. Kenapa penyakit sekejam itu harus dideritanya, dan bagaimana jika nanti dia tahu kakinya harus di amputasi, apakah gadis itu bisa menerimanya? Seohyun masih menangis ketika dia berlalu dari kamar itu.





  • Seohyun’s Apartement

21:45

Dengan malas Seohyun mencari kunci apartementnya, beberapa kali dia mencoba membuka pintu apartementnya, tapi emosinya membuatnya semakin kacau dan beberapa kali dia mnjatuhkan kuncinya. Untuk yang ke empat kalinya kuncinya jatuh, dia benar- benar marah dan untuk sepersekian detik dia baru menyadari pintu apartementnya kini sudah terbuka dan disampingnya berdiri sosok yang sangat di kenalnya.

“Luhan?”

“Jangan melihatku seperti hantu, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sampai membuka pintu saja tidak bisa,” Seohyun tersenyum hambar lalu melepas jaketnya dan mengenakan sandal Keroro kesayangannya. Luhan mengikutinya mengenakan sandal yang memang selalu disiapakan Seohyun untuknya.

“Kenapa larut sekali pulang? bukankah hari ini kau bebas tugas sejak pukul delapan tadi,”

“Ya, aku hanya jalan- jalan sebentar,”

Luhan menatap gadis itu, entah berapa lama dia ingin mengatakan betapa cantiknya dia. Tapi hanya mengatakan itu saja serasa berat untuknya, tiba- tiba dia menyadari bahwa mata Seohyun sembab. Luhan menghampirinya.

“Kau menangis?” nada khawatirnya memang tidak bisa disembunyikannya.

“Tidak,”

“Bohong!”

“Aku tidak bohong,”

“Ceritakan saja, ada apa?"

“Tidak ada apa-apa Luhan-ssi,”

“Jangan Bohong!” Tekan Luhan sekali lagi.

“Kau yang bohong,”

“Aku? aku bohong apa?”

“Kemarin malam, katanya kau sudah tidur tapi aku melihatmu pergi dengan pacarmu itu,” Luhan membelalakan matanya.

“Pacar? aku tidak punya pacar. Dari mana kau tahu kemarin aku pergi,”

“Aku kebetulan berdiri di balkonku da…”

“Kenapa kau berdiri di balkon malam- malam, angin di atas malam hari tidak bagus,” ujar Luhan segera.

“Aku tahu kau mengalihkan pembicaraan”

“Tidak,”

“Lalu kenapa kau bohong?”

“Aku… aku hanya tidak ingin kau marah,!” Luhan tidak berani menatap matanya, dia hanya memainkan gelangnya dan memandang berkeliling.

“Kenapa aku harus marah?” sergah Seohyun membuat Luhan jadi salah tingkah.

“Sudahlah jangan bahas itu lagi, gadis gila itu terus membuntutiku,”

“Gadis gila?”

“Aku bilangkan jangan bahas lagi, aku akan buatkan cokelat panas dan lebih baik kau membersihkan diri,” Luhan berlalu menuju dapur dan Seohyun dengan tatapan lembut masih memandang punggung Luhan yang kini sudah mengilang di balik dapur, lalu ia tersenyum.

Luhan sudah terbiasa datang ke apartement Seohyun, dan terkadang Seohyun juga melakukan hal yang sama. Mereka berteman sejak satu tahun yang lalu, ketika dua minggu Luhan mulai menempati apartementnya dan secara tidak sengaja barang yang dikirimkan pada mereka tertukar. Dan apartement mereka juga bersebelahan.

Malam itu Luhan menemaninya makan malam, walau jam makan malam sudah lewat dan Luhan juga sudah makan. Tapi melihat kondisi Seohyun yang terus melamun dan belum mau menceritakan apapun membuatnya jadi khawatir.

“Kau belum cerita apa-apa,”

“Memangnya aku harus cerita apa?”

“Seo Joo Hyun janganlah berbohong, aku tahu ada sesuatu yang sedang kau pikirkan,” Luhan memandangnya. Seohyun hanya mengaduk- aduk ramennya dan sama sekali tidak memakannya. Luhan menjadi sedikit sebal melihatnya.

“Seohyun-ah, aku tau kau itu wanita yang lembut, tapi janganlah terlalu lembut dan hanya mengaduk-aduk ramenmu. Kau bisa sakit jika tidak makan,” Luhan mengambil mangkuknya, membuat Seohyun menoleh dan curiga padanya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kupikir kau tidak akan bisa makan sendiri, jadi aku yang akan menyuapimu,”

“Luhan aku bukan anak kecil.”

“Ya, aku tau itu,”

“Lalu?”

“Tapi sikapmu yang seperti anak kecil,”

“Baiklah aku akan makan sendiri, kembalikan mangkuknya,”

“Ceritakan dulu, baru kukembalikan. Kalau tidak aku yang akan menyuapimu,”

“Apa harus?” Seohyun memasang wajah manjanya, tapi Luhan hanya mengangguk lembut. Seohyun hanya mendesah.

“Ingat dengan anak kecil yang sedang kurawat saat ini di rumah sakit, namanya Gisselle,” Luhan mencoba mengingatnya, lalu dia mengangguk.

“Dia terkena kanker,”

“Kanker? gadis sekecil itu?” ujar Luhan terkejut, Seohyun mengangguk.  ” Lalu?”

“Dokter Lee memberitahuku bahwa kakinya harus diamputasi sebelum kankernya mulai menyebar. Luhan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya jika dia tahu kakinya akan diamputasi,” Seohyun menutupi wajahnya dan mulai terisak kembali. Luhan tidak terbiasa dengan keadaan itu. Bagaimana dia harus menenangkannya, lalu Luhan membelai pelan rambut indah Seohyun.

“Seohyun-ah, kau sayang padanya?”

“Tentu saja,”

“Kalau begitu kau tidak ingin melihatnya manderita,”

“Ya,”

“Bukankah lebih baik jika dia harus kehilangan kakinya, daripada harus merasakan penderitaan yang harusnya tidak diderita anak sekecil itu.”

“Kau tidak mengerti Luhan, dia masih kecil. Apa dia bisa menerimanya jika harus kehilangan satu organ tubuhnya? apa mentalnya akan kuat? apa dia bisa Luhan, apa dia mengerti?”

“Apa dia juga akan mengerti kenapa dia harus merasakan sakit setiap hari? apa dia akan mengerti kenapa dia harus tinggal di rumah sakit hampir setiap harinya? dan apa dia akan mengerti bahwa dia tidak bisa sebahagia anak lainnya,”

“Tapi dia juga tidak akan mengerti kenapa organ tubuhnya tdak utuh lagi seperti anak lainnya?”

“Tapi sesuatu yang tidak utuh bukan berarti tidak bisa menjadi sempurna dan bahagia Seohyun,” Luhan memegang tangannya dan memandang Seohyun dalam- dalam. Dia mengusap air mata gadis itu.

“Banyak anak yang sama menderitanya dengan Gisselle, tapi tidak semua anak lemah. Dan jika kamu yakin Gisselle anak yang kuat, kamu akan tahu seberapa bahagianya dia nanti, kau akan melihatnya,” Seohyun memandang Luhan dan mengusap air matanya.

“Benarkah,?”

“Kau seorang perawat Seohyun, kau lembut dan baik hati. Tapi kau juga harus lebih kuat karena kau harus menguatkan orang lain,” Luhan tersenyum, dan Seohyun tersenyum lucu padanya.

“Aku baru tahu jika kau juga bisa mengeluarkan kata- kata seperti itu,”

“Ya, aku memang terlalu imut untuk memberi petuah,” Seohyun mencibirnya.

“Siapa yang bilang kau imut? pasti gadis itukan,?”

“Gadis siapa?” sahut Luhan marah.”Sudah kubilang jangan bahas itu lagi, cepat makan!”

“Tidak lapar,”

“Makan dan istirahatlah! Ingat kau harus kuat jika ingin menguatkan orang lain,”

“Hemm baiklah”

Seohyun melambaikan tangannya ketika mengantarkan Luhan pulang.

“Cepat tidur, jangan terlalu banyak begadang,”

“Tidak akan Pak Tua,”

“Terserah kau saja, akan kuterima asal kau yang panggil,” Seohyun tersenyum.

“Terima kasih,” Seohyun memandangnya, untuk pertama kalinya Luhan merasakan pandangan itu. Pandangan lembut dan bahagia dan itu karenanya. Meskipun hatinya serasa ingin bertepuk tangan tapi Luhan hanya mengangguk. Dan bahkan dia masih berdiri 1 menit walaupun Seohyun sudah menutup pintu apartementnya.





  • The Cube Company    


07:50 pagi

Jiyeon sepagi itu sudah mondar- mandir di kantor Ayahnya, sudah beberapa kali dia melongok ruangan Luhan, tapi dia belum datang juga. Dengan perasaan kesal dia melemparkan tasnya begitu saja dan mulai marah- marah pada Ayahnya.

“Appa? kenapa Luhan oppa belum datang juga?” tapi Appanya diam saja, dan masih melanjutkan pekerjaannya.

“Appaaa”

“Jiyeon Appa sedang bekerja, janganlah menggangu. Jika bosan lebih baik kau pulang saja,”

“Pulang? aku tidak akan pulang sebelum bertemu Luhan oppa,”

“Kalau begitu diam dan tunggu saja!” Jiyeon memasang tampang kesal. Dia merapikan rambut cokelat panjangnya.

“Appa, inikan sudah lewat pukul delapan dan Luhan oppa belum datang. Apakah itu bisa disebut karyawan yang baik? kenapa Appa tidak pecat saja dia?” ujar Jiyeon dengan nada sombongnya.

“Jaga ucapanmu Jiyeon,”

“Kenapa? bukankah appa selalu menuruti mauku? jika aku mau Luhan oppa dipecat pasti appa akan mengabulkannya kan?” appanya mendesah lalu memandangnya.

“Luhan adalah aset berharga, jadi appa tidak akan memecatnya. Pekerjaannya selalu sempurna, dan appa suka padanya,”

“Benarkah? akupun suka padanya appa,”

“Tapi dia tidak suka padamu,”

“Appaa, dia harus suka padaku!” appanya hanya menggeleng-geleng saja.

“Cinta tidak akan bisa dipaksa nak,”

“Tentu saja bisa”

“Keras kepala,”

“Appa, aku tidak suka dia dekat dengan suster itu,”

“Suster siapa?”

“Dia satu apartement dengan Luhan oppa, dan aku tidak suka karena mereka dekat. Tidak ada yang boleh mendekati Luhan oppa,”

“Lalu kau mau apa?”

“Lihat saja nanti,”

“Jangan macam- macam,” appanya memandang tegas padanya. Tapi jieyon lebih keras kepala lagi. Dia tidak akan mundur sebelum ambisinya itu tercapai.



“Aku akan melakukan apa yang aku mau,” Jiyeon meraih tas-nya dan melenggang cepat meninggalakan appanya yang hanya duduk terdiam.




Shinwa Company


09:30

“Ada kabar apa?”

“Buruk,”

“Seberapa buruk?” Tanya Kyuhyun-ssi di balik meja besarnya.

“Kita kalah memenangkan tender,” ujar Changmin-ssi. Dia masih menatap Kyuhyun yang terlihat santai mendengarkannya.

“Perusahaan Won Geun tidak jadi bergabung dengan kita, mereka membatalkan seluruh sahamnya dan sekarang mereka malah menanamkan sahamnya hampir 70% pada The Cube!”

“Apa? The Cube Company maksudmu?”Kyuhyun menoleh dengan cepat. Dan dia bisa melihat jelas wajah Changmin-ssi yang puas dengan kabarnya itu.

“Ya, siapa lagi. Musuh bebuyutan, kurasa mereka sekarang sedang merayakan kemenangannya atas kita,” Changmin meletakkan sebuah profil, dan Kyuhyun langsung membacanya.

“Xi- Luhan?”

“Ya dia asal China, masih muda usianya baru 21 tahun. Baru tujuh bulan dia bergabung dengan The Cube dan selama dia yang menangani belum pernah ada tender yang tidak dimenangkannya. Kudengar juga dia anak teman dari bos besar The Cube. Dan dia memang punya kecerdasan dan taktik yang memang mengagumkan”

“Jin Young, kenapa harus Won Geun yang jatuh ke tangan The Cube” Kyuhyun seakan ingin meremas-remas kertas itu. Tapi dia masih menatap foto itu seakan pernah mengenalnya. Tapi dia tidak ingat dimana.



“Cari tahu lebih banyak tentang dia,” Kyuhyun melemparkan profil itu ke mejanya, masih menatap nanar foto itu dan Changmin-ssi hanya mengangguk dan meninggalkan Kyuhyun yang masih melamun dengan emosinya.

to be continue...



2 comments: