Saturday, 15 March 2014

My Story 1. Who You are To Me? Part 1.




Who You are To Me?


 Main cast:

Kang Minhyuk  CNBlue
Seo Joo hyun      SNSD
Jung Yonghwa  CNBlue



            'Entah kenapa, Minhyuk merasa hari itu dadanya terasa mengembung, tidak ada rasa mual seperti biasanya. Melihat gadis itu berjalan disampingnya selama sehari penuh, membuat hati Minhyuk lega. Lega bisa melihatnya, dan hanya ada dirinya yang berjalan disampingnya dan bukan orang lain.'

                                                                            ***

            Malam turun dengan cepat, bekas hujan masih menyisakan tetes- tetes air disela dedaunan. Perpustakaan tampak sepi, hanya ada satu pengunjung yang sedang membenahi bukunya dan bersiap- siap akan pergi karena perpustakaan akan segera ditutup. Disudut ruangan terlihat seorang pemuda jangkung yang sedang sibuk mengembalikan buku ke raknya semula. Wajahnya tampan, dan matanya sangat kecil sekali. Beberapa kali dia melirik ke arah meja resepsionis, berusaha melihat gadis berambut panjang yang terlihat sibuk dibalik mejanya. Pemuda itu tersenyum sangat manis, berusaha memandang lebih jauh diantara rak buku yang menjulang tinggi. Gadis itu masih tenggelam dibalik pekerjaannya, wajah cantiknya terlihat lelah. Beberapa kali dia menguap, mencoba menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


          “Pulang sama- sama,” sapa Minhyuk dengan tiba- tiba. Membuat Seohyun mendongak dan melepas senyum manisnya.

          “Oh tentu saja, kau sudah selesai dengan bukumu?” Seohyun membenahi kacamatanya dan melayangkan pandangan ke sudut ruangan dimana Minhyuk tadi bekerja. Minhyuk dengan spontan mengikuti arah pandangannya.

          “Tentu saja, aku tidak akan membiarkan Madam Lee mengomeliku pagi-pagi, “ ucapnya dan disambut tawa kecil Seohyun yang sangat sopan. “ Apa kau masih lama?” Tanya Minhyuk dan mencoba melihat agenda yang sedang dipegang Seohyun.

          “Oh sebentar lagi ,aku tidak akan lama. Apa kau punya janji? aku tidak apa pulang sendiri,” Minhyuk menggeleng dengan cepat ketika Seohyun memandangnya.

          “Aku hanya bertanya, bahkan jika dua tahun kau baru menyelesaikan agendamu itu aku akan tetap menunggu,” Seohyun tertawa spontan mendengar lelucon Minhyuk, lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.

          Hari sudah agak larut ketika mereka menutup pintu perpustakaan. Hawa terasa dingin, Seohyun merapatkan mantelnya dan mengenakan sarung tangan wolnya. Ketika Minhyuk selesai mengunci pintu dan kembali setelah selesai memeriksa jendela, Seohyun langsung menyambar tangannya. Membuat Minhyuk dengan spontan terkejut, tapi dia diam saja ketika Seohyun memakaikan sarung tangan berwarna biru tua ke tangannya. Lagi- lagi rasa itu! Walaupun hal itu terjadi setiap harinya, tapi Minhyuk tidak pernah merasa terbiasa. Minhyuk mencoba bernafas lebih dalam dan mencoba menahan degup jantungnya yang memukul- mukul dadanya. Berharap Seohyun tidak mendengarnya.

          “Biasakanlah pakai ini, hawa sedang dingin aku tidak mau kau sakit! Dan pakai topimu,” Seohyun dengan spontan juga memakaikan topi wol kekepala Minhyuk, tidak melihat rona merah di wajah Minhyuk. Dan Minhyuk bersyukur hari sudah larut.

          “Kau takut aku sakit? “ Minhyuk bertanya pelan dan melirik ke arah Seohyun yang berjalan di sampingnya.

          “Tentu saja, akukan tidak mau bekerja sendirian,” Seohyun tertawa, Minhyuk meringis mendengar godaan Seohyun. Jalanan masih tampak ramai, walaupun udara dingin tapi akhir pekan adalah hari yang panjang. Dan tentu saja muda mudi tidak akan melewatkan malam itu dengan duduk manis didepan perapian. Minhyuk dan Seohyun berjalan ringan, karna jarak yang lumayan jauh membuat tubuh mereka hangat dan tidak terlalu dingin lagi.

          Seohyun tak bisa menahan tawa ketika Minhyuk dengan antusias menceritakan hal- hal lucu padanya. Wajahnya terlihat pucat, tapi mata bulatnya tidak pernah lepas ketika Minhyuk terus berbicara panjang lebar. Dan Minhuyk, tidak ada kata senang selain dia bisa melihat Seohyun tertawa karenanya. Selama mungkin dia menatap wajah Seohyun yang kini sedang sibuk berfikir berusaha membalas leluconnya.  Bahkan tidak mendengar ketika sebuah mobil hitam buatan Amerika mendekat dan berhenti disamping mereka yang kini juga mengamati mobil itu. Tiba- tiba Minhyuk mundur dan menatap sosok tampan yang keluar dari mobil itu. Dia tersenyum senang.

          “Hai, kenapa tidak mengabariku jika kalian sudah pulang? aku tadi keperpustakaan tapi sudah tutup, kau berusaha menyembunyikannya dariku?” Yonghwa bertanya dengan tatapan menyelidik pada Minhyuk, tapi kemudian tertawa ketika melihat Minhyuk protes.

          “Hei hyung aku sudah mengirimu pesan dua kali, tapi tidak kau jawab. Apa kau pikir aku akan meninggalkannya sendiri menunggumu?” Minhyuk menjawab dengan nada sedikit kesal, tapi Yonghwa hanya tertawa.

          “Aku hanya bercanda adik kecil,dan ngomong- ngomong terima kasih sudah menjaganya” Yonghwa masih menggodanya lalu memandang Seohyun dan melihat wajahnya yang pucat.

          “ Kau sakit? wajahmu pucat sekali,” Yonghwa mendekat terlihat khawatir dan menjamah kening Seohyun. Seohyun tersenyum dan menepis tangan Yonghwa dengan sopan, lalu melirik kearah Minhyuk yang juga terlihat cemas. Tapi Minhyuk diam saja.

          “Tidak apa hanya kedinginan, kau tau udaranya sangat dingin,” Seohyun merapatkan mantelnya kembali . Yonghwa langsung menggandeng tangannya dan membimbingnya masuk ke dalam mobil. Tapi Seohyun berhenti, menatap lagi wajah Minhyuk yang juga terlihat pucat karna kedinginan.

          “ Minhyuk tidak ikut, “ Seohyun menatap Yonghwa lalu menatap kearah Minhyuk lagi. Tapi Minhyuk menggeleng.

          “Tidak, kalian berdua saja pulang. Aku mau mengunjungi Jonghyun hyung. Dia memintaku….mmm membenahi gitar bututnya itu, “Minhyuk tersenyum, terlihat sekali bahwa dia mencoba mencari alasan yang pas.

          “Hati- hati,” teriak Seohyun dari dalam mobil, Minhyuk mengangguk. Yonghwa yang duduk disampingnya melambaikan tangannnya. Minhyuk membalas, dan lagi- lagi dia melihat mobil itu pergi. Selalu di jalan yang sama, meninggalkan dia sendirian di tengah dingginnya malam. Selama bebrapa detik dia masih mematung dibawah lampu jalan yang hanya bersinar temaram. Dia sudah terbiasa! Terbiasa melihat kakaknya menggandeng tangannya. Dengan langkah pelan, dia membelok dari sudut jalan, menyusuri jalan yang mulai lengang menuju rumah Jonghyun. Minhyuk sadar rumah Jonghyun hanya alasan, tapi entah kenapa membohongi gadis itu rasanya seperti membohongi dirinya sendiri.


                                                          ****

         

No comments:

Post a Comment