Saturday, 15 March 2014

My Story 1. Who You are To Me? Part 2.



Who You are To Me?

***

            “Bagaimana kabar Jonghyun oppa? kau bertemu dengannya semalam, aku dengar sekarang dia meneruskan kuliah lagi,” Seohyun membuka percakapaan saat mereka bertiga sedang makan siang di restourant dekat perpustakaan. Minhyuk terbatuk pelan lalu mengangguk. Tidak ada ruginya juga semalam dia datang kerumah Jonghyun, batin Minhyuk.

          “Ya, aku tau pasti suatu saat dia akan sadar kalau dia itu jenius,” Minhyuk menjawab sambil terus memandang kearah lalu lintas yang tidak terlalu padat. Berusaha mengabaikan tangan Yonghwa yang terus menggenggam erat tangan Seohyun.

          “Kau tau, Jonghyun itu pintar tapi baginya tidak ada yang lebih penting dari music dan wanita,” Yonghwa menimpali dan Seohyun tertawa, Minhyuk tertawa keras lalu meninju pundak kakaknya.

          “Dari mana kau tahu hyung, aku tidak pernah melihatnya membawa satu wanitapun kerumahnya. Bahkan berjalan dengan wanita aku tidak pernah melihatnya, kecuali ibunya tentunya,”

          “Jangan pura- pura tidak tahu, dia baru saja putus dari Suzy. Dan sekarang dia sedang mendekati temanmu Yoona.” Yonghwa menoleh kearah Seohyun.” Bukankah seleranya sangat tinggi,?” Tawa Minhyuk meledak, tapi Seohyun langsung menutup telinganya.

          “Dia tidak mendekati Yoona eonni, jangan menggosip oppa?”

          “Aku tidak menggosip, tapi Jonghyun sendiri yang bilang padaku. Dan katanya Yoona itu seksi sekali” Seohyun langsung menepuk pundaknya dengan keras. Tapi Yonghwa dan Minhyuk masih tertawa keras membayangkan kemungkinan itu.

          Hari itu berlalu seperti biasanya. Yonghwa sudah kembali dengan kuliahnya, setelah berjanji akan menjemput Seohyun lagi . Perpustakaan terlihat penuh hingga sore harinya, Minhyuk dan Seohyun dibuat sesibuk mungkin oleh para pengunjung yang semakin banyak. Madam Lee terlihat senang sekali melihat kerajinan kedua pegawainya itu. Dan sore itu Madam Lee rupanya sedang baik hati, ia menyuruh Seohyun dan Minhyuk pulang lebih awal dari biasanya. Keduanya langsung berkemas dan menembus udara hangat di bawah matahari yang bersinar pucat di ufuk barat.

          “Bukankan hyung akan menjemputmu lagi, kenapa tidak menunggu? “ Minhyuk menegur ketika melihat Seohyun berlari mengejar langkahnya.” Apa perlu kutemani,?” tanyanya lagi, tapi Seohyun menggeleng.

          “Tadinya dia mau langsung datang, tapi aku melarangnya. Aku tidak mau membuatnya repot terus menerus,” Seohyun membenahi rambut panjangnya yang tergerai indah dibalik bahunya. Tidak sadar bahwa selama beberapa detik Minhyuk menatap perbuatannya itu.

          “Kenapa repot? hyungkan menyayangimu, kalian berdua pacaran. Jangan merasa sungkan dengan orang yang kau sayangi,”  Minhyuk meneruskan langkahnya yang kini diikuti langkah Seohyun yang hampir sama panjangnya dengan langkahnya sendiri.

          “Aku tidak sungkan, hanya saja aku tidak mau dia terus sibuk mengurusiku. Lagi pula aku sudah cukup senang pulang denganmu, aku bilang padanya kau akan mengantarku. Dan dia setuju,” Seohyun melihat Minhyuk tersenyum seperti biasanya.

          “Aku akan pastikan kau sampai rumah dengan aman,” Dia tertawa dan lagi- lagi dadanya berdebar keras ketika melihat Seohyun tersenyum lucu padanya. Entah berapa kali momen itu selalu tejadi,  keinginan Minhyuk menggandeng tangan gadis yang berjalan disampingnya terasa begitu menggebu- gebu. Tapi dia tidak pernah bisa melakukannya, walaupun hanya sebatas teman.

          Mereka tidak langsung pulang, karena Seohyun memaksa Minhyuk menemaninya berjalan- jalan di taman. Taman itu tidak jauh dari perpusatakaan, hanya menempuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Taman itu penuh seperti biasanya, walaupun udara sudah terasa dingin lagi tapi orang- orang sudah terbiasa dengan hawa dingin. Minhyuk membelikannya kopi dan mengajaknya bermain monopoli. Tidak akan ada yang peduli apapun yang diperbuat mereka disitu, mereka menempati pavilyun kecil, tempat yang selalu mereka datangi dulu. Tapi setelah Seohyun sering bertemu Yonghwa, baru kali ini mereka duduk bersama lagi di taman itu.

          Hari sudah larut ketika mereka menyusuri jalan menuju rumah Seohyun. Entah kenapa, Minhyuk merasa hari itu dadanya terasa mengembung, tidak ada rasa mual seperti biasanya. Melihat gadis itu berjalan disampingnya selama sehari penuh, membuat hati Minhyuk lega. Lega bisa melihatnya, dan hanya ada dirinya yang berjalan disampingnya dan bukan orang lain.

          Mereka berhenti didepan sebuah rumah bercat putih dengan halaman yang terawat dengan rapi. Ini bukan pertama kalinya Minhyuk melihat rumah itu, dia sering mengantarkan Seohyun, bahkan sebelum Yonghwa memberinya perintah.

          “Sudah sampai dengan aman,” goda Minhyuk mengisyaratkan Seohyun agar segera masuk. “Udara dingin tidak terlalu baik,”

          “Aku tahu itu, itu juga tak terlalu baik untukmu,” sahut Seohyun yang sudah melangkah ke arah gerbang. “ Terima kasih sudah mengantarku pulang” Seohyun melambai dan melihat Minhyuk mengangguk.

          “Jangan lupa mengabari hyung,” Minhyuk menimpali, Seohyun mengangguk. Selama satu menit Minhyuk masih mematung. Dia tidak pernah berfikir bahwa Seohyun akan kembali, dan dengan wajah canggung dia melihat Seohyun muncul kembali dari balik pintu gerbangnya.

          “Apa ada yang tertinggal, “ tanyanya dengan gugup.

          “Tidak, aku hanya mau memberimu ini, untung saja kau belum pergi. Ini mantel ayah, aku tidak mau kau kedinginan hanya dengan sweater tipismu itu.” Seohyun menyerahkan mantel berwarna cokelat muda pada Minhyuk. Minhyuk tertawa, merasa senang bahwa dia diperhatikan.

          “Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan kalau aku sakit, tapi inikan mantel ayahmu” Seohyun tertawa mendengarnya.

          “Tidak apa, ayah sudah jarang memakainya. Jangan merasa sungkan,!” Seohyun melepas senyum yang sangat manis.

          “ Terima kasih dan tidurlah” Minhyuk mengucapkan dengan canggung, Seohyun mengangguk.

          “ Aku tidak pernah merasa sungkan denganmu,” ucap Seohyun dengan tiba- tiba lalu berbalik dan berlari kecil menuju teras rumahnya tanpa menoleh lagi.

Minhyuk masih mematung tidak mengerti, memandangi lampu dilantai dua yang kini menyala. Selama 15 menit Minhyuk masih berdiri didepan pintu gerbang dengan mengenakan mantel cokelat yang terlihat kebesaran. Selama itu dia terus menatap kamar Seohyun dilantai dua, lampunya masih menyala. Setelah beberapa detik, Minhyuk melihat Seohyun menutup jendelanya tanpa melihat kebawah, lalu melihat lampu itu padam seketika. Minhyuk menghela nafas, lalu merapatkan mantelnya dan kembali menyusuri jalan yang sudah lengang sejak tadi. Hatinya masih terasa senang, dan terus mengingat ucapan gadis itu. Dan entah kenapa selama itu dia tidak menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari ujung jalan.


                                                  ****





No comments:

Post a Comment